
Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara yang paling cepat mengadopsi teknologi kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari bandara hingga transportasi umum, teknologi AI sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas warganya. Seorang jurnalis yang baru mendarat di Seoul langsung merasakannya sendiri — melewati pos imigrasi tanpa petugas manusia, hanya dengan pemindaian wajah dan paspor secara otomatis.
Korea Selatan memang punya fondasi yang kuat untuk adopsi teknologi ini. Negara ini memiliki infrastruktur internet yang termasuk tercepat di dunia, tingkat melek teknologi yang tinggi, serta budaya masyarakat yang relatif terbuka terhadap inovasi digital. Pemerintah dan sektor swasta di sana juga sudah lama berinvestasi besar-besaran di bidang semikonduktor, elektronik konsumen, dan kini AI — nama-nama besar seperti Samsung dan LG menjadi bukti nyatanya.
Tren ini penting karena Korea Selatan bisa jadi cermin bagi negara-negara lain tentang seperti apa wajah masyarakat yang benar-benar "AI-native". Ketika banyak negara masih berdebat soal regulasi dan kekhawatiran etika AI, Korea Selatan justru melangkah maju dengan penerapan nyata di lapangan. Hal ini memberi gambaran konkret tentang bagaimana AI bisa mengubah layanan publik, mobilitas, dan interaksi manusia sehari-hari secara masif.
Yang menarik untuk diikuti adalah apakah model adopsi ala Korea Selatan ini bisa direplikasi di negara lain, atau justru ada faktor budaya dan infrastruktur unik yang membuatnya sulit ditiru. Perdebatan soal privasi dan pengawasan berbasis AI juga pasti akan semakin relevan seiring penerapannya yang kian meluas.