Melek AI
Melek AI
Repo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxAbout+ Submit Tool
Melek AI

Hub harian buat ngikutin AI. Repo GitHub yang lagi naik & berita AI terbaru, dirangkum AI dalam bahasa Indonesia.

JelajahRepo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxKamus AISubmit Tool
LainnyaAboutYouTubeShorts
© 2026 Melek AIDibuat di Indonesia 🇮🇩
← Berita AI
THE VERGE10 jam lalu

Midjourney Bikin Scanner Tubuh, Pakar Medis Angkat Alis

Midjourney, startup AI yang selama ini dikenal lewat generator gambar berbasis teks, tiba-tiba mengumumkan pivot besar ke dunia pencitraan medis. Mereka memperkenalkan alat pemindai ultrasonografi yang prosesnya unik: pengguna direndam ke dalam bak berisi air, lalu dipindai dengan harapan menghasilkan kualitas gambar "sekuat MRI." CEO David Holz bahkan menyebut sistem ini suatu hari bisa melampaui MRI, sambil membayangkan pengalaman pemindaian yang terasa seperti pergi ke spa.

Ide dasarnya sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil secara ilmiah — ultrasonografi berbasis perendaman air (immersion ultrasound) memang sudah dikenal dalam riset medis karena air membantu konduksi gelombang suara lebih baik. Yang jadi soal adalah klaim besar yang dilempar Midjourney tanpa disertai bukti publik yang memadai. Para spesialis pencitraan medis yang diwawancarai The Verge mengakui mereka tidak menolak mentah-mentah, tapi mereka juga belum melihat data atau hasil validasi klinis yang cukup untuk mendukung klaim tersebut.

Ini menarik dari sisi industri AI karena menunjukkan tren startup AI generatif yang mulai merambah ke sektor kesehatan — bidang yang regulasinya ketat dan standar buktinya sangat tinggi. Membuat gambar artistik dari prompt teks adalah satu hal; menghasilkan pencitraan diagnostik yang akurat dan bisa diandalkan dokter adalah tantangan yang jauh berbeda. Jika gagal, taruhannya bukan cuma reputasi, tapi keselamatan pasien.

Yang menarik untuk diikuti adalah apakah Midjourney akan merilis data klinis yang serius, atau apakah ini lebih ke arah "science-adjacent branding" yang sedang tren. Pivot ini juga membuka pertanyaan lebih luas: seberapa jauh perusahaan AI non-medis bisa masuk ke dunia kesehatan hanya berbekal kemampuan komputasi dan ambisi besar, tanpa rekam jejak klinis?

Baca artikel asli di The Verge →