
Ben Guez berhasil mendapatkan banyak perhatian dari perempuan internasional di DM Instagram-nya setelah ia membuat skrip otomatis yang menjalankan pendekatan romantis secara massal. Skrip tersebut memanfaatkan kombinasi OpenClaw, Claude Code, dan akun uji coba Instagram untuk mengirim pesan atau berinteraksi secara otomatis ke banyak orang sekaligus. Hasilnya, ia mengklaim kini punya "segudang calon istri internasional" yang masuk ke kotak pesannya.
Ini bukan sekadar eksperimen iseng — Guez secara sadar merancang alur otomatisasi yang cukup teknis, menggabungkan kemampuan coding agent seperti Claude Code dengan platform sosial. OpenClaw sendiri tampaknya berperan sebagai lapisan otomatisasi atau antarmuka yang menghubungkan berbagai tools tersebut. Penggunaan "Instagram trials" menunjukkan ia memutar beberapa akun atau sesi uji coba agar tidak mudah diblokir oleh sistem deteksi platform.
Kasus ini menyoroti sisi gelap sekaligus sisi menggelikan dari kemajuan AI agent: teknologi yang dirancang untuk produktivitas kerja kini dipakai untuk otomatisasi kencan. Ini menimbulkan pertanyaan serius soal keaslian interaksi online — kalau pesan "pertama" yang kamu terima dari seseorang ternyata ditulis dan dikirim oleh AI, apakah itu masih disebut kenalan? Buat industri platform sosial, ini adalah sinyal bahwa bot kencan berbasis AI akan makin sulit dibedakan dari manusia sungguhan.
Yang menarik untuk diikuti adalah bagaimana platform seperti Instagram merespons tren otomatisasi semacam ini, dan apakah pengembang tools AI seperti Anthropic (pembuat Claude) akan menambah batasan penggunaan untuk mencegah penyalahgunaan serupa. Di sisi lain, komunitas developer pasti akan terus bereksperimen — dan kasus Guez ini kemungkinan besar hanya puncak gunung es dari tren "AI dating automation" yang sedang tumbuh diam-diam.