
Gerakan "slow tech" atau teknologi lambat sedang naik daun sebagai reaksi terhadap dampak negatif era smartphone yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Orang-orang mulai mencari cara untuk merebut kembali kendali atas waktu dan perhatian mereka yang selama ini tersita oleh notifikasi, scroll tanpa henti, dan desain aplikasi yang memang sengaja dibuat adiktif. Berbagai produk dan pendekatan baru bermunculan — dari ponsel minimalis hingga aplikasi yang sengaja membatasi diri sendiri — menawarkan alternatif dari hiruk-pikuk digital yang terus menerus.
Smartphone modern dirancang dengan prinsip "attention economy": semakin lama pengguna terpaku pada layar, semakin besar pendapatan iklan yang dihasilkan. Desain ini terbukti efektif sekaligus merusak — riset bertahun-tahun menunjukkan korelasi antara penggunaan media sosial berlebihan dengan penurunan konsentrasi, kecemasan, hingga gangguan tidur. Kini, sebagian pengguna dan bahkan sejumlah perusahaan teknologi mulai mempertanyakan model ini dan mencari pendekatan yang lebih manusiawi.
Tren ini punya implikasi besar bagi industri teknologi, termasuk AI. Banyak produk AI justru berpotensi memperparah masalah perhatian — chatbot yang selalu siap, feed yang dipersonalisasi algoritma, konten yang diproduksi tanpa henti. Jika "slow tech" benar-benar membentuk ulang ekspektasi pengguna, maka pengembang AI juga perlu memikirkan ulang apakah produk mereka membantu manusia berpikir lebih baik, atau justru semakin mengalihkan fokus.
Yang menarik untuk diikuti adalah apakah gerakan ini akan tetap jadi ceruk kecil atau benar-benar mengubah arus utama industri. Tekanan regulasi soal desain adiktif di beberapa negara, ditambah kesadaran pengguna yang terus tumbuh, bisa menjadi katalis perubahan yang lebih besar. Pertanyaannya: bisakah perusahaan teknologi besar beradaptasi tanpa mengorbankan model bisnis mereka?