
Belakangan ini, perusahaan-perusahaan mulai memperkenalkan AI agent ke dalam tim kerja mereka — dan banyak yang memilih memberi agent itu nama manusia, seperti "Alex." Fenomena ini memunculkan perdebatan serius: apakah membingkai AI sebagai "rekan kerja" itu membantu, atau justru menyesatkan? Artikel dari MIT Technology Review menyoroti bagaimana framing semacam ini bisa membentuk ekspektasi yang keliru sejak awal.
Memberi nama manusia pada AI agent bukan sekadar gimmick pemasaran — ini keputusan desain yang berdampak psikologis nyata. Ketika sebuah alat diperlakukan seperti kolega, karyawan cenderung membangun rasa percaya yang tidak proporsional, mendelegasikan tanggung jawab secara berlebihan, atau bahkan merasa segan "mengkritik" output-nya. Padahal, AI agent tetaplah sistem yang bekerja berdasarkan instruksi dan probabilitas, bukan pemahaman atau niat.
Isu ini penting karena menyentuh cara kita mendefinisikan akuntabilitas di tempat kerja modern. Kalau sebuah keputusan bisnis salah karena "Alex" memberikan rekomendasi yang keliru, siapa yang bertanggung jawab — pengguna, tim IT, atau vendor AI-nya? Tanpa kejelasan soal ini, adopsi AI agent yang masif justru bisa menciptakan celah pertanggungjawaban yang berbahaya di berbagai industri.
Yang menarik untuk diikuti ke depan adalah bagaimana regulasi dan budaya organisasi akan merespons tren ini. Apakah perusahaan akan mulai membuat standar tentang bagaimana AI agent boleh "diperkenalkan" kepada karyawan? Perdebatan soal identitas dan persona AI agent ini kemungkinan besar akan semakin memanas seiring adopsinya yang terus meluas.