
CEO Allbirds kini beralih haluan ke dunia AI dengan mendirikan bisnis baru. Ia menjadi satu-satunya pendiri sejauh ini, meski sudah mengamankan pendanaan awal yang cukup besar. Langkah berikutnya jelas: membangun tim dari awal karena belum ada satu pun anggota yang bergabung.
Allbirds sendiri dikenal sebagai merek sepatu berkelanjutan yang sempat booming, namun belakangan menghadapi tekanan bisnis yang cukup berat. Keputusan sang CEO untuk terjun ke ranah AI mencerminkan tren yang sedang marak — para eksekutif dari industri consumer goods dan retail mulai melirik teknologi AI sebagai ladang baru. Pendanaan benih yang besar menunjukkan kepercayaan investor, meski arah produk atau layanannya belum sepenuhnya terbentuk.
Fenomena ini menarik karena menggambarkan bagaimana gelombang AI menarik talenta dan modal dari berbagai sektor, bukan hanya dari lingkungan teknologi murni. Pertanyaan besarnya adalah apakah latar belakang di industri fashion dan retail bisa menjadi keunggulan kompetitif yang nyata, atau justru hambatan saat bersaing di ekosistem AI yang sudah padat pemain.
Yang menarik untuk diikuti adalah siapa yang akhirnya direkrut untuk mengisi tim inti, dan ke arah mana produk AI ini akan dikembangkan. Apakah akan menyentuh industri fashion, retail, atau masuk ke segmen yang sama sekali berbeda? Jawabannya kemungkinan baru akan terlihat setelah tim terbentuk.