Melek AI
Melek AI
Repo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxAbout+ Submit Tool
Melek AI

Hub harian buat ngikutin AI. Repo GitHub yang lagi naik & berita AI terbaru, dirangkum AI dalam bahasa Indonesia.

JelajahRepo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxKamus AISubmit Tool
LainnyaAboutYouTubeShorts
© 2026 Melek AIDibuat di Indonesia 🇮🇩
← Berita AI
TECHCRUNCH13 jam lalu

Fika Jobs Raih Pendanaan $4 Juta untuk Platform Rekrutmen Berbasis Video dan AI

Fika Jobs, startup asal Stockholm, baru saja mengamankan pendanaan sebesar $4 juta untuk mengembangkan platform rekrutmen yang menempatkan video sebagai elemen utama. Yang membedakan mereka dari platform lamaran kerja konvensional adalah penggunaan agen AI yang bertugas mewawancarai kandidat secara langsung. Hasilnya adalah pengalaman melamar kerja yang terasa jauh lebih hidup dan interaktif dibanding sekadar mengisi formulir dan mengunggah CV.

Platform ini menggabungkan dua konsep yang sudah familiar: profil video singkat ala TikTok dan jaringan profesional ala LinkedIn, lalu memadukannya dengan teknologi AI. Kandidat bisa menampilkan kepribadian dan kemampuan mereka lewat video pendek, sementara agen AI menjalankan sesi wawancara awal tanpa perlu menunggu jadwal dari rekruter manusia. Ini memangkas salah satu tahap paling memakan waktu dalam proses hiring.

Pendekatan ini relevan di tengah tren besar otomasi rekrutmen yang sedang melanda industri HR global. Perusahaan-perusahaan semakin kewalahan menyaring ratusan bahkan ribuan lamaran, dan AI menawarkan solusi yang efisien—meski tetap memunculkan pertanyaan soal bias algoritmik dan pengalaman kandidat yang terasa "dingin". Fika Jobs mencoba menjawab kekhawatiran itu dengan tetap menonjolkan sisi manusiawi lewat format video.

Yang menarik untuk diikuti adalah bagaimana respons pasar terhadap model ini: apakah kandidat akan merasa nyaman diwawancarai oleh AI, dan apakah perusahaan benar-benar mendapat kandidat berkualitas lebih baik dibanding proses konvensional. Fika Jobs bisa menjadi tolok ukur seberapa jauh AI bisa masuk ke ranah yang selama ini sangat bergantung pada intuisi manusia.

Baca artikel asli di TechCrunch →