Melek AI
Melek AI
Repo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxAbout+ Submit Tool
Melek AI

Hub harian buat ngikutin AI. Repo GitHub yang lagi naik & berita AI terbaru, dirangkum AI dalam bahasa Indonesia.

JelajahRepo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxKamus AISubmit Tool
LainnyaAboutYouTubeInstagram
© 2026 Melek AIDibuat di Indonesia 🇮🇩
← Berita AI
TECHCRUNCH5 jam lalu

Google Digugat Penerbit Besar soal Pelatihan AI Tanpa Izin

Google kembali terseret ke meja hijau gara-gara isu pelatihan AI. Kali ini, sejumlah penerbit buku besar — termasuk Hachette, Cengage, dan Elsevier — menggugat Google dengan tuduhan menggunakan karya berhak cipta mereka untuk melatih model AI tanpa izin. Gugatan ini menambah panjang daftar tuntutan hukum yang menghantui perusahaan-perusahaan teknologi terkait praktik pengumpulan data untuk AI.

Nama-nama yang ada di balik gugatan ini bukan sembarangan. Hachette adalah salah satu penerbit terbesar di dunia, sementara Elsevier dikenal sebagai raksasa penerbitan akademik dan ilmiah. Cengage pun merupakan pemain besar di bidang konten pendidikan. Artinya, jika gugatan ini berhasil, dampaknya bisa sangat luas — menyentuh ranah buku umum, literatur akademik, hingga materi pendidikan yang selama ini menjadi fondasi pengetahuan di berbagai bidang.

Kasus seperti ini mencerminkan ketegangan yang semakin memuncak antara industri konten dan perusahaan AI. Para penerbit merasa karya mereka dipakai "gratis" untuk membangun produk bernilai miliaran dolar, sementara mereka sendiri tidak mendapat kompensasi apa pun. Jika pengadilan berpihak pada penerbit, ini bisa memaksa perusahaan AI untuk menegosiasikan lisensi data secara resmi — yang pada akhirnya akan mengubah cara model-model besar dilatih di masa depan.

Yang menarik untuk diikuti adalah bagaimana gugatan ini berinteraksi dengan berbagai kasus serupa yang sudah berjalan, termasuk dari penulis individu dan media berita. Putusan-putusan yang muncul dalam beberapa tahun ke depan bisa menjadi preseden hukum penting yang membentuk ulang ekosistem AI secara global.

Baca artikel asli di TechCrunch →