
Serial Netflix *A Man on the Inside* ternyata secara tak sengaja menyentuh isu besar di balik teknologi kacamata pintar. Dalam serial itu, Ted Danson memerankan Charles Nieuwendyk, seorang duda tua yang bekerja sebagai mata-mata amatir untuk seorang detektif swasta. Berbekal kacamata mirip Ray-Ban Meta, perekam suara, dan smartphone, ia menyusup ke sebuah panti jompo — dan dari situ berbagai pelanggaran privasi pun terjadi.
Ray-Ban Meta sendiri adalah produk nyata hasil kolaborasi Meta dan Ray-Ban yang memungkinkan pengguna merekam video dan foto secara diam-diam dari sudut pandang orang pertama. Itulah yang membuat perangkat ini kontroversial: tidak seperti kamera aksi yang mencolok, kacamata pintar tampak seperti aksesori biasa sehingga orang-orang di sekitar pemakainya nyaris tidak sadar sedang direkam. Penulis artikel ini bahkan mengaku secara personal merasakan betapa tidak nyamannya "memegang privasi orang lain" di tangan sendiri.
Ini penting karena selama ini debat soal privasi kacamata pintar cenderung bersifat abstrak — sekadar teori atau kekhawatiran akademis. Serial televisi seperti ini, meski fiksi, bisa menjadi cermin budaya yang lebih efektif dalam memperlihatkan dampak nyata teknologi tersebut kepada publik luas. Ketika orang menonton dan merasa tidak nyaman, itulah momen kesadaran kolektif yang bisa mendorong regulasi atau setidaknya norma sosial baru seputar penggunaan perangkat semacam ini.
Yang menarik untuk diikuti adalah bagaimana industri — terutama Meta yang tengah gencar mengembangkan lini kacamata pintarnya — merespons tekanan budaya semacam ini. Apakah akan ada fitur indikator fisik yang lebih jelas saat perangkat sedang merekam? Atau justru regulasi dari pemerintah yang akan lebih dulu bergerak? Persimpangan antara hiburan populer dan kebijakan teknologi seperti ini jarang terjadi, dan layak untuk terus dipantau.