Melek AI
Melek AI
Repo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxAbout+ Submit Tool
Melek AI

Hub harian buat ngikutin AI. Repo GitHub yang lagi naik & berita AI terbaru, dirangkum AI dalam bahasa Indonesia.

JelajahRepo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxKamus AISubmit Tool
LainnyaAboutYouTubeInstagram
© 2026 Melek AIDibuat di Indonesia 🇮🇩
← Berita AI
TECHCRUNCH7 jam lalu

Bukan Cuma CEO SoftBank yang Skeptis soal Pusat Data Orbital Elon Musk

Elon Musk belakangan ini mempromosikan ide pusat data yang dibangun di orbit luar angkasa, sebuah konsep yang terdengar futuristis sekaligus kontroversial. Ide ini mendapat reaksi dingin dari banyak pihak di industri teknologi, termasuk Masayoshi Son, CEO SoftBank, yang secara terbuka mengungkapkan keraguan atas visi tersebut. Ternyata Son bukan satu-satunya — skeptisisme terhadap gagasan ini jauh lebih luas dari yang mungkin dibayangkan.

Pusat data orbital pada dasarnya adalah fasilitas komputasi yang ditempatkan di luar angkasa, memanfaatkan kondisi vakum untuk pendinginan dan potensi energi surya tanpa hambatan atmosfer. Secara teori kedengarannya menarik, tapi secara praktis tantangannya sangat besar — mulai dari biaya peluncuran yang astronomis, latensi komunikasi, hingga risiko kerusakan akibat radiasi dan sampah antariksa. Musk memang punya rekam jejak lewat SpaceX dalam menurunkan biaya akses ke orbit, tapi membangun dan merawat infrastruktur komputasi di luar angkasa adalah tantangan yang sama sekali berbeda.

Perdebatan ini penting karena menggambarkan ketegangan antara visi besar yang mendorong inovasi dan realitas teknis serta ekonomi yang harus dihadapi industri. Di tengah persaingan sengit pembangunan pusat data AI di Bumi — yang sudah memakan biaya triliunan dolar dan menguras listrik — melempar ide ke orbit bisa dibaca sebagai distraksi atau justru terobosan jangka panjang. Kepercayaan investor dan mitra bisnis sangat bergantung pada apakah ide-ide semacam ini bisa dibuktikan layak, bukan sekadar jadi hype.

Yang menarik untuk diikuti adalah seberapa jauh Musk akan mendorong narasi ini dan apakah ada demonstrasi teknis nyata yang menyusul. Jika ini hanya wacana tanpa roadmap konkret, reputasinya sebagai pebisnis visioner bisa mulai dipertanyakan lebih serius oleh para investor besar seperti SoftBank.

Baca artikel asli di TechCrunch →