Melek AI
Melek AI
Repo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxAbout+ Submit Tool
Melek AI

Hub harian buat ngikutin AI. Repo GitHub yang lagi naik & berita AI terbaru, dirangkum AI dalam bahasa Indonesia.

JelajahRepo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxKamus AISubmit Tool
LainnyaAboutYouTubeInstagram
© 2026 Melek AIDibuat di Indonesia 🇮🇩
← Berita AI
TECHCRUNCH8 jam lalu

Amazon Tutup Pintu Pendaftaran Pelanggan Baru Mechanical Turk

Amazon mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menerima pelanggan baru untuk layanan Mechanical Turk (MTurk), menandai babak yang mungkin menjadi akhir dari platform crowdsourcing legendaris ini. Langkah ini mengejutkan banyak pihak karena MTurk sudah lama menjadi tulang punggung bagi riset akademis, pelabelan data, dan berbagai tugas mikro yang membutuhkan tenaga manusia.

Mechanical Turk diluncurkan Amazon pada 2005 dan dinamai dari mesin catur otomatis abad ke-18 yang sebenarnya dioperasikan manusia tersembunyi di dalamnya — sebuah metafora yang pas. Selama dua dekade, platform ini menghubungkan bisnis dengan ribuan "Turker" di seluruh dunia yang mengerjakan tugas-tugas kecil seperti transkripsi, klasifikasi gambar, dan survei dengan bayaran sangat rendah. MTurk menjadi salah satu infrastruktur penting di era awal machine learning, terutama untuk membangun dataset berlabel.

Keputusan ini penting karena mencerminkan pergeseran besar dalam industri AI: model-model modern kini semakin mampu mengerjakan tugas yang dulu butuh ribuan tangan manusia. Otomatisasi yang ironisnya justru dibantu oleh data berlabel hasil kerja para Turker itu sendiri kini berpotensi menggantikan mereka. Ini membuka pertanyaan besar soal masa depan pekerjaan mikro dan nasib para pekerja gig economy di sektor AI.

Menarik untuk diikuti apakah Amazon akan benar-benar menutup MTurk sepenuhnya atau sekadar membatasi skala operasinya. Lebih dari itu, pertanyaan etis soal penghargaan terhadap kontribusi jutaan pekerja murah yang membantu melatih AI modern — tanpa kompensasi yang setara — tetap menggantung dan semakin relevan untuk diperdebatkan.

Baca artikel asli di TechCrunch →