
Adam Mosseri, kepala Instagram sekaligus salah satu eksekutif senior Meta, menyampaikan prediksi menarik: perusahaan-perusahaan teknologi pada akhirnya akan perlu mengatur pengeluaran token AI layaknya mengelola gaji atau biaya operasional lainnya. Menurutnya, engineer mungkin akan segera menghadapi batas kuota dalam menggunakan alat-alat AI di tempat kerja. Ini bukan sekadar spekulasi kosong — Mosseri berbicara dari posisi orang yang melihat langsung bagaimana adopsi AI membengkakkan biaya operasional di perusahaan besar seperti Meta.
Token adalah satuan dasar yang dipakai model bahasa besar (LLM) untuk memproses teks, dan setiap permintaan ke API model seperti GPT atau Claude ditagih berdasarkan jumlah token yang digunakan. Semakin banyak engineer yang mengandalkan AI untuk menulis kode, membuat dokumentasi, hingga debugging, semakin besar pula tagihan token yang harus ditanggung perusahaan. Di perusahaan dengan ribuan engineer seperti Meta, biaya ini bisa meledak sangat cepat jika tidak dikelola dengan baik.
Prediksi ini penting karena menyentuh pergeseran cara perusahaan memandang AI — dari sekadar "alat produktivitas" menjadi "sumber daya terbatas yang harus dianggarkan." Jika tren ini terwujud, tim keuangan dan engineering akan perlu berkolaborasi lebih erat dalam menyusun kebijakan penggunaan AI, mirip seperti alokasi lisensi software atau kuota komputasi cloud. Ini juga bisa mendorong lahirnya profesi baru semacam "AI resource manager" di dalam perusahaan.
Yang menarik untuk diikuti adalah bagaimana perusahaan akan menentukan cara adil membagi kuota token antarengineer — apakah berdasarkan level jabatan, jenis pekerjaan, atau performa? Ada juga risiko bahwa pembatasan ini justru memperlambat inovasi jika diterapkan terlalu ketat. Perdebatan soal "apakah AI adalah investasi atau pengeluaran" tampaknya akan semakin hangat dalam beberapa tahun ke depan.