
Margaret Atwood, penulis legendaris di balik *The Handmaid's Tale* dan *The Blind Assassin*, buka suara soal kecerdasan buatan dalam sebuah festival sastra di Porto, Portugal. Ia mengaku pernah mencoba Claude milik Anthropic tepat satu kali, dan hasilnya mengecewakan. Saat mencari informasi tentang serial detektif Inggris *Father Brown*, Claude memberikan jawaban yang salah — atau dalam kata Atwood, "berbohong." Ia pun langsung mengaitkan kejadian ini dengan prinsip lama di dunia teknologi: *garbage in, garbage out*.
Atwood sendiri menegaskan bahwa ia tidak menyalahkan AI secara personal karena memang bukan manusia dan tidak tahu bahwa dirinya keliru. Masalahnya bukan soal niat jahat, melainkan soal bagaimana model bahasa besar bekerja — ia merangkum dan menebak pola dari data yang ada, bukan benar-benar "memahami" fakta. Istilah *garbage in, garbage out* yang ia pakai sudah lama jadi kritik di dunia komputasi: jika data pelatihannya buruk atau tidak lengkap, outputnya pun tidak bisa diandalkan.
Kritik dari tokoh sekaliber Atwood punya bobot tersendiri, terutama karena ia mewakili kalangan sastrawan dan intelektual yang selama ini sudah skeptis terhadap AI generatif. Isu halusinasi — ketika AI menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan tapi salah — masih menjadi tantangan terbesar yang belum terpecahkan oleh semua perusahaan AI besar, termasuk Anthropic, OpenAI, maupun Google. Kepercayaan publik terhadap teknologi ini sangat bergantung pada seberapa cepat masalah akurasi bisa diatasi.
Yang menarik untuk diikuti adalah bagaimana industri AI merespons kritik dari komunitas seni dan sastra yang semakin vokal. Bukan hanya soal hak cipta dan data pelatihan, tapi juga soal keandalan mendasar yang dipertanyakan oleh pengguna nyata — bukan hanya peneliti atau teknolog. Suara seperti Atwood bisa ikut membentuk regulasi dan ekspektasi publik terhadap AI ke depannya.