
Sony baru-baru ini meluncurkan Xperia 1 VIII dengan fitur unggulan bernama AI Camera Assistant — sebuah asisten kamera berbasis AI yang diklaim bisa membantu pengguna memotret lebih baik. Masalahnya, foto-foto yang Sony pamerkan sendiri saat peluncuran justru terlihat mengecewakan, bahkan disebut sebagai beberapa foto terburuk yang pernah dihasilkan kamera Sony dalam beberapa tahun terakhir. Setelah seminggu mencoba langsung, reviewer dari The Verge pun mengonfirmasi: AI Camera Assistant memang seburuk yang terlihat di materi promosinya.
Sebelumnya, Sony sempat dibandingkan dengan fitur Camera Coach milik Google di seri Pixel — sebuah mode kamera yang memberi panduan verbal kepada pengguna soal cara memotret lebih baik. Reviewer awalnya mengira AI Camera Assistant Sony adalah versi yang lebih canggih dari itu. Namun ternyata perbandingan tersebut terlalu optimistis; performa aktualnya jauh dari ekspektasi yang dibangun lewat kampanye pemasaran Sony sendiri.
Ini penting karena Sony selama ini dikenal sebagai merek kamera serius — baik di dunia fotografi profesional maupun smartphone premium. Ketika sebuah fitur AI justru menjadi titik lemah yang paling mencolok di produk unggulan, ini menunjukkan bahwa integrasi AI ke dalam perangkat keras kamera masih jauh dari matang. Industri smartphone sedang berlomba-lomba menjual "AI kamera" sebagai daya tarik utama, dan kasus Sony ini jadi pengingat bahwa label AI tidak otomatis berarti kualitas lebih baik.
Yang menarik untuk diikuti adalah bagaimana Sony merespons kritik ini — apakah lewat pembaruan perangkat lunak atau cukup diam dan berharap orang melupakan. Di sisi lain, persaingan fitur AI kamera antar produsen smartphone semakin ketat, dan konsumen kian kritis. Produsen yang gagal membuktikan klaimnya lewat hasil nyata akan semakin sulit memenangkan kepercayaan pasar.