Melek AI
Melek AI
Repo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxAbout+ Submit Tool
Melek AI

Hub harian buat ngikutin AI. Repo GitHub yang lagi naik & berita AI terbaru, dirangkum AI dalam bahasa Indonesia.

JelajahRepo TrendingBeritaToolsBelajarSandboxKamus AISubmit Tool
LainnyaAboutYouTubeInstagram
© 2026 Melek AIDibuat di Indonesia 🇮🇩
← Berita AI
TECHCRUNCH22 jam lalu

Taipan Teknologi India Gelontorkan Rp480 Miliar Bangun Pesaing Microsoft Office Berbasis AI

Bhavin Turakhia, salah satu pengusaha teknologi paling produktif asal India, bertaruh besar dengan mengucurkan $30 juta dari kantongnya sendiri untuk membangun Neo — sebuah platform produktivitas berbasis AI yang langsung mengincar takhta Microsoft Office dan Google Workspace. Ini bukan gertakan kecil; ini taruhan pribadi dari seseorang yang sudah punya rekam jejak panjang di dunia perangkat lunak enterprise.

Neo adalah ventura kelima Turakhia, yang sebelumnya dikenal lewat perusahaan-perusahaan seperti Directi dan Flock — portofolio yang membuktikan ia bukan pendatang baru di ruang kolaborasi dan produktivitas bisnis. Kali ini ia membidik pasar yang dikuasai dua raksasa teknologi dunia dengan pendekatan yang menempatkan AI sebagai inti produk, bukan sekadar fitur tambahan. Artinya, alih-alih menyempilkan chatbot ke dalam aplikasi lama, Neo dirancang dari awal dengan kecerdasan buatan sebagai tulang punggungnya.

Langkah ini penting karena pasar produktivitas kantor selama ini nyaris tidak tergoyahkan — Microsoft Office dan Google Apps sudah menjadi standar global selama puluhan tahun. Namun gelombang AI generatif membuka celah baru: perusahaan-perusahaan yang membangun dari nol dengan AI-native architecture punya potensi untuk menghadirkan pengalaman yang jauh lebih seamless dibanding pemain lama yang harus "menempel" AI ke sistem warisan mereka. Jika Neo berhasil, ini bisa jadi sinyal bahwa era dominasi duopoli produktivitas mulai retak.

Yang menarik untuk diikuti adalah apakah pendanaan mandiri sebesar ini cukup untuk bersaing di pasar yang butuh distribusi masif dan kepercayaan korporat. Turakhia memilih merogoh kocek sendiri — bukan sekadar gimmick, tapi sinyal keyakinan yang kuat. Pertanyaannya: apakah keyakinan itu akan terbukti di lapangan?

Baca artikel asli di TechCrunch →